ACEH TENGGARA KRIMINAL24 | Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) kabupaten Aceh Tenggara (Agara), menggelar seminar sehari parenting dengan tema “pemenuhan hak anak dalam pengasuhan merupakan tanggungjawab bersama.
Dalam Acara ini berlangsung di gedung aula MAN Negeri 1 Kutacane Aceh Tenggara Jalan Pelajar Komplek Babussalam pada Kamis 20.oktober 2023 Yang turut dihadiri oleh pengurus PKK kecamatan dan desa.
Kadis DPPKB, Budi Afrizal SKM MKM dalam pidatonya menyampaikan, pentingnya hak asuh anak merupakan tanggungjawab bersama, seperti menyediakan lokasi Ruang Bermain Ramah Anak (RBRA) secara gratis oleh pemerintah daerah
Dalam kegiatan ini sangat penting dan krusial untuk menunjang pertumbuhan anak anak yang kreatif dan inovatif
Di kabupaten Aceh tenggara tersebut.
Oleh karena itu, anak merupakan generasi penerus bangsa yang harus dilindungi dan dipenuhi hak-haknya.
Salah satu hak anak yaitu dapat bermain dan mengembangkan diri dengan aman, nyaman, dan terlindungi dari berbagai kekerasan, diskriminasi,
Hal ini dapat terwujud melalui penyediaan Ruang Bermain Ramah Anak (RBRA). Papar Budi Afrizal.
Oleh karena itu, sejak 2018 Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) telah melaksanakan proses Standardisasi dan Sertifikasi Ruang Bermain Anak (RBA) menjadi Ruang Bermain Ramah Anak (RBRA). “Tersedianya RBRA menjadi hal yang sangat penting, mengingat kegiatan bermain bermanfaat dalam tumbuh kembang anak.
Program ini meningkatkan kecerdasan intelektual dan pengetahuan, toleransi dan hubungan sosial, komunikasi dan bahasa, serta kemampuan motorik, sensorik, dan keterampilan anak,” Imbuhnya
Dia menambahkan, kehadiran RBRA adalah sangat penting serta untuk membantu anak terhindar dari ketergantungan gawai yang dapat merusak panca indera anak dan kecanduan game maupun lainnya. Kemudian saya harapkan kepada semua peserta yang mengikuti wabinar ini untuk serius dan implementasi kan dari keluarga dan lingkungan sekitar. Harapnya.
Sementara itu, PJ Ketua PKK Aceh Tenggara, Ibu Yulia Syakir pada acara tersebut menyampaikan, sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa pendidikan yang utama untuk anak-anak generasi kita adalah pendidikan yang melibatkan peran orang tua, dimulai dari keluarga, karena adalah hal yang sangat wajar jika pembinaan pendidikan itu, kita mulai dari rumah dan lingkungan terdekat dari anak-anak kita, yaitu keluarga, dimana anak-anak dibesarkan dengan limpahan cinta dan kasih sayang yang tulus dari para orang tua.
Karena keluarga merupakan ajang pertama, dimana sifat-sifat kepribadian anak tumbuh dan terbentuk dengan cepat. Seorang anak akan menjadi warga masyarakat yang baik atau tidak, sangat bergantung pada sifat-sifat
yang tumbuh dalam kehidupan keluarga dimana anak dibesarkan. Sebut Yulia Syakir.
Kelak, kehidupan anak tersebut juga mempengaruhi masyarakat sekitarnya sehingga pendidikan keluarga itu merupakan dasar terpenting untuk kehidupan anak sebelum masuk sekolah dan terjun pada masyarakat.
Penelitian yang terkait dengan ketidak mampuan pengasuhan orang tua terhadap anak telah membuktikan bahwa permasalahan perilaku anti sosial anak, Seperti (bullying, keterlibatan dengan penyalahgunaan narkoba, kekerasan, dan lain-lain) terjadi antara lain karena kelemahan pengasuhan orang tua, misalnya orang tua yang cenderung permisif (serba boleh) dan mengabaikan atau menolak keberadaan anak, berdampak besar terhadap perkembangan anak tersebut.
Adanya perubahan gaya hidup di sekitar anak, terkait dengan adanya globalisasi dan penggunaan teknologi informasi di seputar anak, juga membuat tantangan dalam mengasuh anak menjadi semakin kompleks.
Mengingat hal tersebut maka pengasuhan orang tua adalah hal yang perlu dipelajari secara terus menerus oleh tiap keluarga, agar tanggap dan responsif pada setiap tahap perkembangan yang dialami oleh anak. Proses pendidikan pada anak akan berhasil bila keseluruhan ekosistem di sekeliling anak bergerak selaras dan saling mendukung bagi tumbuh kembang anak yang sehat.
(Dewan Redaksi Salihan)






