ACEH TENGGARA KRIMINAL24.COM –Sebanyak delapan paket proyek fisik tanggul penahan tebing Sungai Lawe Alas dan Sungai Lawe Bulan kabupaten Aceh Tenggara (Agara) nilainya mencapai Rp 22 Miliar pengetahuannya diduga asal jadi.
Berdasarkan hasil penelusuran kriminal24.Com pada Kamis 30 November 2023 terlihat proyek yang sudah selesai dikerjakan rekanan itu saat ini sebagian kondisi bangunan tembok nya sudah ada yang retak parah dan ambruk.
Sehingga beberapa kalangan menilai bahwa pengerjaannya diduga tidak sesuai dengan spesifikasi teknis.

Kondisi proyek itu terjadi desa Pulo Peding kecamatan Lawe Bulan, yang di kerjakan oleh CV Karya Nusantara dan desa Jongar Cingkam penyeberangan kecamatan Ketambe.
Menanggapi buruknya kualitas pengerjaan proyek tersebut, ketua karang taruna kabupaten Aceh Tenggara, Awaludin SE angkat bicara dirinya sangat menyayangkan rendahnya kualitas pengerjaan proyek yang mengakibatkan terjadinya potensi korupsi dengan meraup keuntungan secara pribadi maupun kelompok dan golongan tertentu.
Seharusnya proyek fisik tersebut harus dikerjakan sesuai dengan spesifikasi teknis untuk menahan derasnya arus sungai Lawe alas dan sungai Lawe bulan ketika musim penghujan. Sehingga tidak lagi banjir terhadap pemukiman warga dan lahan pertanian masyarakat setempat. Ujarnya

Akan tetapi pada faktanya kita melihat tidak seperti itu. Karena beberapa lokasi proyek yang sudah di kerjakan rekanan itu terlihat asal jadi. Karena baru beberapa bulan usai dikerjakan tapi kondisi bangunan tembok proyek RR sudah ada yang retak parah bahkan ambruk.
Selain itu Awaludin menuding bahwa proyek tersebut juga tercium sebagai ajang ajang bisnis sejumlah oknum pejabat tertentu. Pasalnya pekerjaan proyek Rehabilitasi dan Rekonstruksi (RR) banyak menggunakan CV atau perusahaan gelap atau numpang nama saja.
Sebab yang mengerjakan proyek itu ada sejumlah oknum yang bermain di balik layar.
Hal yang sama juga disebutkan ketua Lsm Gerakan Pemuda dan Mahasiswa Aceh Tenggara (Gepmat Agara), Faisal Kadri Dube S Sos, dia mengatakan mengendus terkait pengerjaan paket proyek RR hibah BNPB Pusat itu banyak diperjualbelikan hingga 20 persen dari pagu anggaran yang sudah ditetapkan. Kemudian modusnya pihak yang punya perusahaan (CV) hanya numpang nama saja. Kita juga minta kepada Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) yang merupakan lembaga central yang mengkoordinasikan pelaksanaan upaya pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang supaya dapat menyelidiki rekening yang punya perusahaan atau CV.

Sebab kita yakin uang proyek tersebut tidak mengendap di rekening yang punya perusahaan akan tetapi mengalir kepada oknum pejabat pejabat yang bermain dibelakang layar.
Selain itu kita juga mendorong Aparat Penegak Hukum khususnya Polda Aceh untuk secepatnya bisa melidik setiap titik lokasi pekerjaan proyek RR, karena kualitas pengerjaan proyek tersebut diduga tidak sesuai dengan spesifikasi teknis.Tegas Faisal kadrin Dube.
“Ya selain adanya praktek dugaan jual beli proyek, juga kualitas pengerjaan proyek yang terdapat delapan titik lokasi di wilayah Sungai Lawe Alas dan Sungai Lawe Bulan sangat diragukan. Karena sebagian bangunan proyek saat ini kondisinya sudah retak dan ambruk disebabkan karena saat pengerjaan proyek pihak terkait seperti konsultan pengawas dan PPK dan KPA tidak menjalankan tugas nya sesuai dengan SOP
(Dewan Redaksi Salihan)






